Masih ku ingat pesan Ayah itu. Kalimat itu ku pajang di dingding kamarku dan selalu ku baca sebelum aku menyalakan komputer. Hidupku yang dipenuhi dengan mimpi-mimpi, aku tidak tau apa kah aku bisa mewujudkannya. Ayah selalu menyakini ku bahwa aku pasti bisa. Tapi sejak ia pergi, hanya sederetan kalimat itu lah yang mempu menyemangatiku.
Entah bermula dari mana aku ingin menjadi seorang Novelis. Tapi aku selalu bertanya, mengapa terkadang kenyataan tak sesuai dengan apa yang kita harapkan? Sama seperti yang terjadi dalam hidupku. Mengapa Ayah harus pergi begitu cepat padahal aku ingin suatu saat nanti dia membaca buku karya-karyaku. Dan dengan penuh kebanggaan dia akan memujiku. Pasti akan sangat menyenangkan jika semua yang terjadi sesua dengan apa yang kita harapkan.
Ayah bilang, mimpi adalah tujuan hidup. Orang yang tidak tau apa mimpinya, pastilah diapun tidak tau kemana tujuaannya dan kesulitan menentukan arah kemana diakan melangkah pergi. Dan demi mimpiku ini aku bertekat dan berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan membiarkan siapapun terlebih lagi mahluk adam datang memasuki hidupku dan menghancurkan semua mimpi-mimpiku ini. Bagiku cinta itu pastikan datang sendiri jika memang sudah waktunya. Berbeda dengan cita-cita yang memang harus kita kejar dan berusaha kita raih. Akupun ingin membuktikan pada Ibu, bahwa aku bisa menjadi seorang penulis. Aku tau Ibu berharap banyak pada prestasiku disekolah. Tapi ku akui kemampuaanku yang terbatas ini, berbeda dengan khayalan-khayalanku yang selalu terbang bebas tanpa mengenal batas. Hal ini yang membuatku senang berlama-lama di depan komputerku sambil menarikan jariku di atas keybord.
Dan saat Giaz datang memasuki kehidupan ku, aku sekeras mungkin berusaha tidak memperdulikan keberadaannya dan selalu menjauh. Menghindarinya dengan beribu alasan yang kubuat. Mengabaikan keinginanya untuk menjadi pacarku. Sahabatku Anika, sempat memarahiku. Tak ada salahnya mencoba dan siapa tau dia akan menjadi semangat untukku, katanya saat sedang berada di kamarku.
“Anna, inih ada
Dengan waswas ku buka amplom yang Ibu berikan itu dengan perlahan. Aku harap ini hasil karya ku yang diterima dan bisa segera diterbitkan. Namun setelah ku baca, hati ku remuk seketika. Kertas itupun melayang jatuh kelantai. Tubuhku lunglai, dan Anika memelukku seolah paham betul apa yang sedang kurasakan. Aku telah gagal!
~~~
Siang itu Aku sedang duduk di taman belakang sekolah, rasanya aku tidak lagi memiliki kekuatan untuk bangkit dan kembali mencoba.
“Jangan khawatir, ini bukan akhir dari segalanya. Setidaknya kamu udah melakukan apa yang bisa kamu lakukan. Kalau bukan hari ini, mungkin besok atau lusa. Jangan pernah putus asa!”
Giaz tiba-tiba menghampiriku dan duduk disampingku. Lalu dia membelai kepalaku dengan lembut sambil tersenyum. Kata-katanya terdengar begitu lembut dan hangat,sungguh menyejukkan hati. Lalu Giaz mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan memberikannya padaku.
“
Mendengarnya menyebutkan nama lengkap ku sungguh aneh, tapi kata-katanya cukup menggetarkan hati.
Setibanya di rumah, dengan ragu ku nyalakan komputer dan membuka program Microsoft Word. Jariku terasa kaku menyentuk keybord. Tapi perkataan Giaz juga tulisan Ayah yang kembali ku baca mendorongku untuk memulainya kembali dan harus ku akhiri hingga selesai.
Esok harinya Giaz tersenyum saat ku menyerahkan hasil karanganku,begitu pula Anika. “Kita percaya, kamu pasti bisa…” Ucapannya itu membangkitkan semangatku.
Seminggu sudah aku menanti, dan kini saatnya mengetahui siapa sang juara. Sebenarnya aku sudah takut berharap karna tidak siap kecewa. Tapi aku mengingat kembali kata-kata yang pernah Giaz katakana, “Kalau bukan hari ini, mungkin besok atau lusa. Jangan pernah putus asa!” Aaagh, kenapa dengan kata-kata itu. Kenapa selalu menggema di telingaku dan terasa masih begitu hangat. Apa karna Giaz yang mengatakannya?
Hatiku mengembang melihat papan pengumuman itu. Namaku tercantum dipaling atas sebagai pemenang. Ku peluk Anika dengan gembira, lalu beralih kearah lain. Dan tanpa sadar tanganku telah memeluk sosok jangkung itu. Kejadian ini mendatangkan hikmah penting bagiku. Jangan menyerah selama kau mampu melakukannya, akan ada waktunya semua jadi nyata. Dan ternyata memiliki seorang pacar itu tidaklah selalu buruk. Karna dia pun bisa menjadi semangat. Seperti Giaz yang telah menjadi semangat juga inspirasi ku. Dan karna itu, ketika dia memintaku untuk menjadi pacarnya, aku tidak punya lagi alasan untuk menolaknya hingga akhirnya ku jawab,”yaa…” Dan aku tidak bisa membohonngi perasaanku, bahwa aku telah jatuh cinta akan ketulusan hatinya. Dan mulai detik ini, akan ku raih mimpi-mimpi itu bersamanya….